Foto Edit 8

Kuliah Umum Bersama JETRO Indonesia: “Peran Perusahaan Jepang di Indonesia”

Kuliah umum yang diadakan pada tanggal 21 Mei 2015 ini, bertemakan “Peran Perusahaan Jepang di Indonesia”, dengan narasumber Presiden Direktur JETRO, Bapak Ken’ichi Tomiyoshi. JETRO (Japan External Trade Organization) merupakan organisasi di bawah naungan Pemerintah Jepang yang berkecimpung di bidang perdagangan dan investasi. JETRO menyokong perusahaan Jepang dan juga merupakan media perantara yang menyediakan informasi dan konsultasi bagi perusahaan Jepang yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia.

Pada kuliah umum kali ini dijelaskan alasan mengapa semakin banyak perusahaan Jepang menanamkan modal ke Indonesia. Alasan tersebut di antaranya adalah:

  1. Jumlah penduduk di Indonesia yang besar menjadikan Indonesia market besar yang menjanjikan.
  2. Sebagian penduduk Indonesia terdiri dari lapisan menengah, hal ini menyebabkan daya beli mereka relatif besar.
  3. Penanaman modal di Indonesia oleh Jepang hampir sama jumlahnya dengan penanaman modal di Filipina, tetapi GDP (Gross Domestic Product) di Indonesia tiga kali lebih besar ketimbang Filipina.
  4. Selain itu, kekayaaan alam yang melimpah dan tenaga kerja di Indonesia yang murah juga menjadi faktor penanaman modal di Indonesia.

Penanaman modal oleh Jepang terus meningkat. JETRO mendukung semua jenis perusahaan, namun faktanya perusahaan yang banyak datang ke JETRO adalah perusahaan kecil dan menengah. Usaha kecil dan menengah tetap menjadi fokus, meskipun demikian penanaman modal ke perusahaan besar juga meningkat.

Sekitar 70% perusahaan Jepang yang berada  di Indonesia adalah perusahaan yang memproduksi barang, seperti perusahaan komponen kendaraan. Selebihnya adalah perusahaan yang menawarkan jasa seperti restoran, asuransi, bimbingan belajar, dan lain-lain. Sebagian besar perusahaan Jepang (kira-kira 90%) berada di Pulau Jawa. Hal ini karena dari segi bahan baku komponen pembuatan spare part dan pabrik ada di Pulau Jawa, umumnya berpusat di Jawa Barat. Perusahaan Jepang seperti perusahaan kendaraan roda empat memiliki market share yang tinggi, kira-kira sebesar 96%. Kemudian ditambah perusahaan kendaraan roda dua, persentasenya menjadi 99%.

Pada presentasi kali ini, Bapak Ken’ichi menyatakan bahwa merek barang dengan nama Jepang memiliki nilai jual yang tinggi, beliau mengambil contoh produk sabun Shin’zui. Ia menyatakan bahwa walaupun produk ini bukan produk yang berasal dari Jepang (hanya memakai nama Jepang saja), tetapi banyak dibeli oleh konsumen.

Dalam kuliah umum ini, dijelaskan juga masalah-masalah dalam perekonomian Indonesia yang berdampak pada perusahaan-perusahaan Jepang. Masalah yang terjadi dalam jangka pendek di antaranya mengenai ketenagakerjaan seperti peraturan ketenagakerjaan dan kenaikan gaji.  Selain itu, nilai rupiah yang melemah mengakibatkan kenaikan harga impor yang menyebabkan semakin mahalnya harga barang dan menurunnya daya beli masyarakat.  Penurunan GDP  pun menyebabkan keuntungan perusahaan menurun, karena gaji yang rendah menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat.

Selain itu ada pula masalah-masalah jangka panjang, antara lain mengenai regulasi ekonomi yang belum jelas, kurangnya pembangunan infrastruktur, serta ketidakpastian hukum. Oleh karena itu diharapkan hasil kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke Jepang dan MoU (Memorandum of  Understanding) yang ditandatangani Kemendag Indonesia dan JETRO terkait peningkatan ekspor dan industri kreatif Indonesia -Jepang yang disebutkan di akhir presentasi dapat membantu mengatasi masalah-masalah perekonomian yang ada di Indonesia.

Nur Shabrina – Sastra Jepang 2011

 

Foto Edit 4   Foto Edit 5

Foto Edit 6   Foto Edit 7

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *